Karang Gigi dan Scaling

Karang Gigi dan SacalingKarang Gigi (Kalkulus)

Definisi

Karang gigi atau kalkulus (dalam konteks kedokteran gigi) adalah deposit material yang terkalsifikasi pada permukaan gigi. Kalkulus tidak semerta-merta terbentuk begitu saja, melainkan melalui proses yang diawali dari plak dental (dental plaque). Tentunya istilah “plak” sudah lazim didengar oleh masyarakat, banyak produk kedokteran gigi yang menyertakan “anti plak atau aktif menghilangkan plak” dalam kampanye-nya. Tepat sekali, karena plak adalah awal dari permasalahan pada rongga mulut, terutama yang berhubungan pada penyakit gigi ataupun gusi.

Karang gigi (kalkulus) adalah suatu “kondisi” yang sering terjadi dalam penyakit periodontal (jaringan pendukung gigi) yang kelainannya disebut sebagai Gingivitis (gingiv(a) artinya gusi ; –itis artinya peradangan) atau radang gusi. Bagian dari jaringan periodontal (pendukung gigi selain gigi itu sendiri) terdiri dari : gingiva (gusi), ligamen periodontal, tulang gigi (tulang alveolar), dan sementum (penyusun akar gigi) (Baca lebih lengkap pada Mengenal Gigi).

Proses Pembentukan

Proses pembentukan kalkulus atau karang gigi diawali dengan adanya sisa makanan yang menempel pada permukaan gigi, terutama di area yang berdekatan dengan gusi (pada leher gigi) karena cenderung sulit dibersihkan. Di dalam rongga mulut terdapat bakteri normal, bakteri akan mencari sisa makanan karena membutuhkan gula untuk metabolismenya. Sisa makanan dan bakteri yang berinteraksi dengannya dinamakan sebagai “plak dental (dental plaque)”. Kondisi plak ini tidak akan merugikan, apabila segera dibersihkan. Namun akan mulai mengakibatkan masalah ketika dibiarkan, bakteri yang menempel akan semakin banyak. Keberadaan bakteri dan plak pada gusi dianggap sebagai “benda asing” sehingga tubuh akan mengeluarkan reaksi pertahanan, sehingga muncul reaksi “inflamasi” atau yang akrab disebut “reaksi radang”. Gusi akan tampak kemerahan, kadang terasa sakit atau gatal, dan mudah berdarah. Namun, bisa jadi tidak terjadi pada sebagian orang.

Di dalam rongga mulut, air liur mengandung mineral, seperti kalsium, fosfat, dan enzim lainnya yang normal sifatnya. Paparan terus menerus antara air liur dengan plak, akan menyebabkan reaksi kalsifikasi sehingga bentuknya seperti bebatuan (karang). Karang ini lebih sulit dibersihkan dibandingkan plak, tidak bisa menggunakan sikat gigi, dan memerlukan alat yang disebut “dental scaler”; sehingga proses pembersihan karang gigi disebut sebagai “scaling”. Kondisi karang gigi pada rongga mulut dibagi menjadi 3 tahap yaitu : masih berada di atas gusi / supragingiva (di area leher gigi), berada di antara / supra dan subgingiva, dan berada di dalam gusi (subgingiva). Tentunya apabila berada dalam gusi (subgingiva) pembersihannya menjadi lebih sulit, karena bercampur dengan darah dan cairan gusi, dan efeknya menjadi lebih parah.

Kondisi karang gigi yang banyak dan dalam, menyebabkan reaksi radang yang lebih parah tentunya; disebut dengan Periodontitis (periodont(al) artinya jaringan pendukung gigi ; ­-itis artinya peradangan) atau radang pada jaringan pendukung gigi. Tampak gusi menurun, kemerahan, sakit, bisa terjadi bengkak dan bernanah, gigi goyang, bahkan tanggal sendirinya.

Scaling

Pembersihan karang gigi disebut sebagai scaling. Memanfaatkan alat berupa scaler manual yaitu dengan alat yang digerakkan manual tangan. Ataupun dengan memanfaatkan ultrasonic. Scaler ultrasonic ini adalah jenis yang paling umum digunakan, yaitu dengan kombinasi getaran ultrasonic dan air. Getaran ini akan memecah karang dan membersihkan permukaan gigi. Ujung alat tidak tajam sehingga tidak akan mengiritasi jaringan gusi. Setelah scaling, akan dilakukan pemolesan menggunakan bahan pumice untuk menghaluskan permukaan gigi dan mencegah melekatnya sisa makanan.

Prosedur scaling ini merupakan tindakan dasar rutin yang disarankan oleh dokter gigi, setidaknya 6 bulan sekali. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kelainan gusi maupun gigi lain, yang dapat berdampak pada kesehatan gigi dan mulut.

Maka, sangat penting untuk rutin menyikat gigi terutama malam sebelum tidur untuk membersihkan seluruh sisa makanan pada permukaan gigi. Apalagi ketika tidur, terjadi kondisi “irama sirkadian” yang menurunkan produksi air liur sehingga rongga mulut lebih pekat dan proses kalsifikasi pada sisa makanan tersebut terjadi lebih optimal. Selain itu jangan lupa untuk datang ke dokter gigi, apabila terlihat kalkulus mulai muncul untuk dilakukan scaling; setidaknya 6 bulan sekali.

 

ditulis oleh: drg. Fenny Kamadi

Written by seputargigi

Leave a comment